Oleh Vatican News
Paus Leo mengajak umat Kristiani untuk menolak godaan mencari manifestasi spektakuler dari kuasa Allah. Sebaliknya, beliau mengingatkan bahwa Kerajaan Allah bertumbuh dengan tenang dan penuh kesabaran, seperti benih kecil atau ragi yang bekerja tanpa terlihat.
Berbicara kepada para peziarah yang berkumpul untuk doa Angelus Minggu di Castel Gandolfo, Paus merefleksikan tiga perumpamaan dari Injil Santo Matius—tentang gandum dan ilalang, biji sesawi, serta ragi—yang menurutnya mengungkapkan cara Allah bekerja dalam sejarah dan dalam kehidupan manusia.
Allah Memilih Jalan Kesederhanaan
Alih-alih memaksakan diri-Nya dengan kekuatan atau datang dalam kemenangan yang gemilang, kata Paus, Allah memilih “yang kecil” sebagai tanda kasih-Nya yang lembut, sabar, dan tidak mencolok.
“Ia membiarkan kita bebas menerima atau menolak-Nya,” kata Paus Leo.
Beliau menambahkan bahwa kasih Allah tetap hadir bahkan “di tengah ilalang”, bekerja tanpa terlihat seperti benih yang paling kecil, dan mengubah dunia secara diam-diam seperti ragi dalam adonan.
Paus mengakui bahwa banyak orang berharap Allah campur tangan secara dramatis dan segera menghapus kejahatan dari dunia. Namun, harapan semacam itu dapat melahirkan pemahaman yang keliru tentang kehidupan Kristiani dan tentang Gereja.
Sebaliknya, umat Kristiani dipanggil untuk menyadari bahwa Kerajaan Allah terus bertumbuh bahkan di tengah kehadiran kejahatan.
Hal itu menuntut kemampuan untuk mengenali kebaikan yang tetap muncul di tengah kegelapan, menolak godaan untuk menghakimi secara tergesa-gesa, dan dengan sabar mendampingi karya rahmat Allah yang berlangsung sedikit demi sedikit.
Kerajaan Allah Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari
Paus menegaskan bahwa Kerajaan Allah sering kali hadir dalam peristiwa-peristiwa biasa kehidupan sehari-hari.
Kerajaan itu bertumbuh tanpa disadari, namun terus bekerja dan menghasilkan buah.
Bahkan ketika Allah tampak jauh atau seolah tidak hadir, Paus meyakinkan umat bahwa Dia senantiasa hadir dan kasih-Nya selalu siap menolong.
Menjadi Benih-Benih Kecil Injil
Paus Leo melanjutkan bahwa cara Allah bertindak harus menjadi cara hidup umat Kristiani, baik secara pribadi maupun sebagai anggota Gereja.
Beliau mengajak umat untuk mengembangkan apa yang disebutnya sebagai “gaya hidup yang berpusat pada Injil”, dengan menghindari kesombongan, keinginan untuk menguasai orang lain, atau penggunaan kekuasaan untuk memaksakan iman.
Sebaliknya, umat diajak menaruh kepercayaan pada karya Allah yang bekerja secara tenang dan tersembunyi.
Mengutip Paus Benediktus XVI ketika masih menjabat sebagai Kardinal Joseph Ratzinger, Paus Leo mengatakan bahwa umat Kristiani dipanggil untuk menghayati “logika benih”, yaitu logika yang “bukan logika keberhasilan dan kebesaran, melainkan logika menjadikan diri kecil dan melayani sesama.”
Dengan cara itu, tegas Paus, umat Kristiani dapat menjadi “benih-benih kecil Injil” dan “ragi kasih” yang mampu mengubah dunia dari dalam.
Mengakhiri renungannya, Paus Leo mempercayakan seluruh umat beriman kepada perantaraan Santa Perawan Maria. Beliau berdoa agar Maria, yang dengan rendah hati menerima benih Sabda Allah dalam hidupnya, terus menopang perjalanan iman umat Kristiani.
Tinggalkan Balasan