Sebanyak 230 peserta dari Paroki Santa Sesilia Pontianak, STAKAT Negeri Pontianak, STIKES Panca Bhakti, dan Politeknik Tonggak Equator aksi penanaman pohon di Rumah Pelangi, Kabupaten Kubu Raya
PONTIANAK — Semangat merawat bumi sebagai bagian dari penghayatan iman menggema di kawasan konservasi Rumah Pelangi. Ketua STAKAT Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang mengusung tema ekoteologi, salah satu program prioritas Kementerian Agama.
“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi program ekoteologi yang menjadi prioritas Kementerian Agama. Program ini juga selaras dengan rangkaian Yubileum Santo Fransiskus Assisi yang diselenggarakan Paroki Santa Sesilia Pontianak, yang mengajak umat mencintai dan memelihara lingkungan sebagaimana teladan Santo Fransiskus yang memandang seluruh ciptaan sebagai saudara,” ujarnya penuh khidmat.
Getaran spiritual yang sama disuarakan Ketua Tim PKM STAKAT Negeri Pontianak, Martinus, S.Ag., M.Si. Ia menegaskan bahwa pengabdian sejati harus melahirkan dampak nyata bagi kehidupan sosial, termasuk dalam menjawab jeritan alam yang kian rapuh.
“Tahun ini menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya PKM lembaga diwujudkan melalui aksi penanaman pohon. Ini bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi komitmen kami mendukung semangat ekoteologi sekaligus menghidupi spiritualitas Santo Fransiskus Assisi,” tuturnya.
Nada rohani itu diperdalam Pastor Paroki Santa Sesilia Pontianak, RP. Fransiskus Yosnianto, OFMCap. Baginya, kepedulian terhadap lingkungan bukanlah pelengkap, melainkan denyut yang tak terpisahkan dari kehidupan iman.
“Merawat bumi bukan pilihan tambahan bagi orang beriman. Itu adalah konsekuensi dari iman kita sendiri. Mencintai Sang Pencipta berarti juga menghormati ciptaan-Nya,” tegasnya.
Pemilihan Rumah Pelangi sebagai lokasi kegiatan menyimpan makna historis sekaligus ekologis yang mendalam. Kawasan konservasi ini dirintis pada awal tahun 2000-an oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap., sebagai jawaban iman atas kerusakan hutan di Kalimantan Barat. Berawal dari tanah yang gersang, kawasan ini dipulihkan melalui gerakan penghijauan hingga kini menjelma menjadi hutan konservasi yang menjadi ruang belajar lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, maupun masyarakat umum.
Kini Rumah Pelangi berada di bawah pengelolaan RP. Ignatius Michael Warsito, OFMCap., yang terus mengembangkan kawasan tersebut sebagai pusat konservasi, rehabilitasi lahan gambut, serta pembelajaran ekoteologi yang menautkan refleksi iman dengan aksi nyata pelestarian lingkungan. Menurutnya, perjumpaan langsung dengan alam mampu menumbuhkan kesadaran ekologis yang jauh lebih dalam ketimbang pembelajaran di ruang kelas—sebuah ziarah iman yang mengakar pada bumi ciptaan Tuhan.






