Oleh Jenny Kraska
Pada pertengahan Juli, banyak dari kita telah memasuki ritme musim panas yang lebih santai. Liburan mulai berlangsung. Sekolah telah usai. Jadwal menjadi lebih longgar. Ada waktu untuk duduk di beranda, menikmati acara barbeku bersama keluarga, menghabiskan sore di tepi air, atau sekadar menikmati secangkir kopi di pagi hari tanpa terburu-buru.
Musim panas menawarkan kesempatan yang menyegarkan untuk beristirahat, dan istirahat bukan hanya sebuah anugerah—istirahat adalah sesuatu yang dikehendaki Allah bagi kita.
Namun, tepat ketika kita mulai bersantai, Yesus menyampaikan kepada kita salah satu perumpamaan-Nya yang lebih menantang, yakni perumpamaan tentang gandum dan lalang yang terdapat dalam Injil hari Minggu ini.
Jika kita jujur, bukan persis bacaan Injil seperti inilah yang akan kita pilih untuk akhir pekan musim panas yang santai. Kita mungkin lebih menyukai sesuatu yang lebih ringan, sesuatu yang sesuai dengan semangat musim yang bebas dan tanpa beban. Sebaliknya, Yesus mengingatkan kita bahwa karya kemuridan terus berlanjut. Kehidupan Kristiani tidak mengenal libur musim panas.
Yang membuat Injil ini sangat menarik adalah bahwa Yesus sendiri menjelaskan perumpamaan tersebut. Ladang adalah dunia. Benih yang baik melambangkan anak-anak Kerajaan. Lalang adalah karya si jahat. Panen adalah akhir zaman, dan para penuai adalah para malaikat Allah.
Yesus mengingatkan kita bahwa kita hidup dalam sebuah drama rohani yang lebih besar. Kebaikan dan kejahatan tumbuh berdampingan hingga tiba saat panen terakhir.
Hal ini mungkin membuat kita merasa tidak nyaman. Kita lebih menginginkan dunia di mana kebaikan selalu segera menang dan setiap ketidakadilan dengan cepat diperbaiki. Namun, Yesus mengatakan kepada kita bahwa sejarah jauh lebih rumit. Allah telah menaburkan benih yang baik, tetapi musuh juga telah bekerja. Hingga akhir zaman, gandum dan lalang akan tumbuh bersama.
Ini berarti orang-orang Kristiani tidak perlu terkejut dengan kehadiran kejahatan, dan juga tidak boleh berkecil hati karenanya. Adanya lalang bukan berarti sang petani telah meninggalkan ladangnya. Sebaliknya, ladang itu milik Kristus. Anak Manusia terus menaburkan benih yang baik, terus memelihara pertumbuhannya, dan menjanjikan bahwa panen akan tiba pada waktu yang ditentukan Allah.
Ada pelajaran lain di sini. Perumpamaan ini bukanlah ajakan untuk mencari dan mengidentifikasi lalang dalam kehidupan orang lain. Yesus menyerahkan penghakiman kepada para malaikat pada akhir zaman. Tugas kita bukan menentukan siapa yang merupakan gandum dan siapa yang merupakan lalang. Tugas kita adalah tetap berakar dalam Kristus dan menghasilkan buah yang baik.
Tantangan itu tidak hilang selama bulan-bulan musim panas. Setiap hari kita memilih akan menjadi benih seperti apa. Kita bisa membantu Kerajaan Allah bertumbuh melalui tindakan kasih, belas kasih, dan kesetiaan, atau membiarkan keegoisan, kebencian, dan ketidakpedulian berakar dalam diri kita.
Beristirahat itu penting, tetapi istirahat seharusnya memperbarui kekuatan kita untuk menjalankan perutusan, bukan mengalihkan kita darinya.
Tinggalkan Balasan